26 Januari 2015
“Kita ketemu di
tempat biasa ya. Jam 8” ... jam 11 baru muncul ...
“Aku sayang
kamu” ... iya ... dan sayang orang lain juga kan?
“Aku peduli sama
kamu. Aku khawatir” ... kenapa tiap kali aku terkapar, nanyain baik baik aja
enggak? Ke mana kamu ketika aku bahkan opname? Gak ada ...
“Kamu satu
satunya buatku” ... tapi belum bisa move on dari mantan, dan sebegitu mesra nya
sama adik angkatan
“Maaf ya, hari
ini aku gak bisa nemenin kamu. Aku capek. Tadi malam gak tidur sama sekali. Aku
mau istirahat dulu” ... kemudian seharian ngilang ... ternyata lagi ke bioskop
sama mantan ...
Sejak Mei hingga Januari ... 8 bulan berlalu benar benar
cepat. Aku bahkan enggak menyangka hingga saat ini aku benar benar masih trauma
dengan segala luka yang pernah kamu torehkan, mantan. Bukannya aku gak bisa
move on, gak bisa lupain kamu, kamu, orang yang udah ku usir dari cerita
hidupku. Aku hanya takut ada orang sejenis kamu, sejahat kamu, kembali masuk
... Trauma yang begitu nyata ... karena itu, sampai sekarang aku masih sendiri
karena terus terusan berlari. Puas?
Gak lama setelah kepergianmu, ada seseorang yang begitu
baik, mencoba masuk ... dia perlahan memanggilku. Dengan bisikan yang lembut,
bertanya, adakah aku mengijinkannya menjadi lagu ku ... lagu yang menenangkan
ku ...Untuk sejenak, aku bahagia. Sejenak ...
Dia orang yang benar-benar baik, kau tau. Dia melakukan
banyak hal yang tak pernah kau lakukan. Peduli padaku, menjagaku,
mengkhawatirkanku, dan mencintaiku. Dan kemudian aku menyadari trauma ku terlalu
nyata setelah aku memintanya untuk juga pergi ...
Kau tau ... setelah kepergianmu, aku menjadi terlalu
keras terhadap banyak hal. Karena aku takut ... takut kembali tersakiti
sebagaimana yang pernah terjadi. “Man’s dignity lies on his word, whether or not he will
remain true. A noble man will remain true on his word”. Aku terus mendekap kalimat itu ... Dia tidak se parah
kamu, padahal. Tapi aku menyuruhnya pergi ... Karena dia berkali kali,
sebagaimana yang pernah kau lakukan, mengingkari janjinya. Karena itu, aku
tidak bisa menyerahkan hatiku, hidupku padanya ... Banyak hal yang ingin ku
katakan, tapi hingga kini aku tidak bisa benar-benar mengatakan ini ... alasan
esensial aku memintanya pergi ...
Hampir 2 minggu ... 2 minggu dia tidak berusaha
menghubungiku, kecuali aku yang terlebih dulu menghubunginya. Aku tau, dia
berusaha melupakanku. Aku yang memintanya pergi. Tapi entah mengapa, ada yang
terasa kosong ... entah kenapa ... Aku jahat, kan? Iya, aku wanita yang sangat
mengerikan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar