Selasa, 26 Januari 2016

A single 'Sorry' won't fix (1)


 





26 Januari 2015


“Kita ketemu di tempat biasa ya. Jam 8” ... jam 11 baru muncul ...
“Aku sayang kamu” ... iya ... dan sayang orang lain juga kan?
“Aku peduli sama kamu. Aku khawatir” ... kenapa tiap kali aku terkapar, nanyain baik baik aja enggak? Ke mana kamu ketika aku bahkan opname? Gak ada ...
“Kamu satu satunya buatku” ... tapi belum bisa move on dari mantan, dan sebegitu mesra nya sama adik angkatan
“Maaf ya, hari ini aku gak bisa nemenin kamu. Aku capek. Tadi malam gak tidur sama sekali. Aku mau istirahat dulu” ... kemudian seharian ngilang ... ternyata lagi ke bioskop sama mantan ...


Sejak Mei hingga Januari ... 8 bulan berlalu benar benar cepat. Aku bahkan enggak menyangka hingga saat ini aku benar benar masih trauma dengan segala luka yang pernah kamu torehkan, mantan. Bukannya aku gak bisa move on, gak bisa lupain kamu, kamu, orang yang udah ku usir dari cerita hidupku. Aku hanya takut ada orang sejenis kamu, sejahat kamu, kembali masuk ... Trauma yang begitu nyata ... karena itu, sampai sekarang aku masih sendiri karena terus terusan berlari. Puas?
Gak lama setelah kepergianmu, ada seseorang yang begitu baik, mencoba masuk ... dia perlahan memanggilku. Dengan bisikan yang lembut, bertanya, adakah aku mengijinkannya menjadi lagu ku ... lagu yang menenangkan ku ...Untuk sejenak, aku bahagia. Sejenak ...
Dia orang yang benar-benar baik, kau tau. Dia melakukan banyak hal yang tak pernah kau lakukan. Peduli padaku, menjagaku, mengkhawatirkanku, dan mencintaiku. Dan kemudian aku menyadari trauma ku terlalu nyata setelah aku memintanya untuk juga pergi ...
Kau tau ... setelah kepergianmu, aku menjadi terlalu keras terhadap banyak hal. Karena aku takut ... takut kembali tersakiti sebagaimana yang pernah terjadi. “Man’s dignity lies on his word, whether or not he will remain true. A noble man will remain true on his word”. Aku terus mendekap kalimat itu ... Dia tidak se parah kamu, padahal. Tapi aku menyuruhnya pergi ... Karena dia berkali kali, sebagaimana yang pernah kau lakukan, mengingkari janjinya. Karena itu, aku tidak bisa menyerahkan hatiku, hidupku padanya ... Banyak hal yang ingin ku katakan, tapi hingga kini aku tidak bisa benar-benar mengatakan ini ... alasan esensial aku memintanya pergi ...
Hampir 2 minggu ... 2 minggu dia tidak berusaha menghubungiku, kecuali aku yang terlebih dulu menghubunginya. Aku tau, dia berusaha melupakanku. Aku yang memintanya pergi. Tapi entah mengapa, ada yang terasa kosong ... entah kenapa ... Aku jahat, kan? Iya, aku wanita yang sangat mengerikan ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar